B

Akan ada masanya. Masa untukku dan masa untukmu. Perihal masa untukmu,yang kata orang kebanyakan masa tinggi di hidupmu. Aku tidak tahu usaha apa saja sudah kamu lakukan.

Berapa waktu yang sudah kamu korbankan. Berapa banyak waktu tidurmu yang kamu pangkas sedemikian rupa untuk masa tinggi mu. Berapa banyak tangis yang sudah kamu keluarkan hingga rasanya matamu sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan tangis. Berapa kali ragamu sudah berkata ingin berhenti tapi terus kamu paksa.

Banyak hal yang sudah kamu korbankan. Mereka tidak tahu sebanyak apa rasa frustasi yang mengerogoti otakmu. Berkali-kali ingin menyerah. Ingin berhenti. Rasanya sudah tidak kuat lagi. Tapi kamu tahu hal itu layak kamu perjuangkan untuk hidupmu. Untuk hidupmu sendiri. Untuk banggamu sendiri.

Kamu yang paling tahu hal layak apa yang kamu perjuangkan. Hal mana yang harus kamu prioritaskan. Yang aku tahu. Yang aku lihat. Hanya kamu yang sudah ada pada masa tinggi mu. Aku tidak tahu apa apa.

Untukmu yang sedang memperjuangkan hal baik untuk masa depanmu nanti. Aku harap kamu kuat. Aku harap kamu mendengarkan ragamu. Berhenti sebentar. Istirahat sebentar. Pejamkan matamu sebentar. Rasakan napasmu. Aku tahu waktunya hanya 24 jam. Ragamu lelah. Ragamu butuh istirahat. Otakmu butuh istirahat. Tolong istirahat sebentar ya 🌻

A

Tadi habis dandan ditanyain sama periasnya karena jilbabnya saya pakai sendiri dengan model jilbab yang biasa saya gunain setiap harinya. Lalu dia tanya

“Mbak nggak papa jilbab nya kayak gitu,kamu keliatan tembem lho?”

Dalam hati saya mikir emang kenapa sih,apa yang salah lalu saya jawab sambil senyum.

“Nggak papa i mbk.”

Saya sendiri merasa nggak ada yang salah dari pipi tembem. Itu yang dikasih Tuhan untuk saya. Saya nggak bisa mengubah itu. Lalu media mengatakan bahwa cantik itu pipi tirus kemudian kita dibuat percaya bahwa cantik itu pipi tirus. Standarnya cantik menjadi pipi tirus. Kemudian untuk sekarang standar itu yang masih digunakan. Saya nggak bisa menyalahkan mereka,cara pandang mereka. Saya tidak masalah dengan pipi tembem karena saya punya standar sendiri untuk cantik itu sendiri.

Solusi

Solusi menurut kbbi adalah penyelesaian,pemecahan (masalah dan sebagainya) jalan keluar.

Gue yang saat ini kadang masih memaksakan solusi yang menurut gue efektif untuk orang lain.

“Kenapa nggak gini gimana sih tuh orang!”

“Kan mestinya gini gimana sih!”

“Harusnya lo tuh gini,gini,gini bukan gitu!”

“Harusnya gini kok gitu bikin ribet aja sih!”

Pernah nggak kalian kayak gitu ke orang lain. Kalau gue sih sering. Setelah gue pikir-pikir efektif buat gue belum tentu efektif buat orang lain. Solusi yang gue punya belum tentu bisa diterapin di kehidupan orang lain. Dan masalah yang gue anggap biasa aja. Juga belum tentu menurut orang lain biasa aja bisa jadi itu masalah yang cukup besar buat orang lain. Dan masalah yang gue anggap besar bisa jadi menurut orang lain adalah masalah yang remeh temeh.

Karena gue dan orang-orang ini punya latar belakang yang berbeda,punya cara dalam memandang masalah yang berbeda,punya pola pikir yang berbeda,punya ketakutan yang berbeda,punya definisi yang berbeda dalam memandang sesuatu,punya cara yang berbeda dalam memandang hidup,punya lingkungan yang berbeda.

Walaupun mungkin gue dan orang-orang ini punya masalah yang sama. Misal,masalahnya adalah orang ini nggak bisa masak tapi dikarenakan suatu hal dia harus bisa masak. Gue akan kasih solusi yang menurut gue efektif adalah ya lo setiap hari kudu belajar masak,nyoba resep-resep baru,tanya gugel,belajar dari lingkungan lo yang pintar masak suruh ngajarin. Ini yang menurut gue efektif.

Tapi lo nggak tanya apa yang jadi kendalanya dalam menghadapi masalah itu lo cuma memaksakan solusi lo buat dipakai. Lo nggak tahu misal dia trauma sama kompor karena suatu hal,lingkungan yang nggak ngasih dukungan,lingkungannya nggak ada yang pintar masak.

Jadi yang jadi pegangan gue saat ini adalah solusi yang menurut gue efektif belum tentu efektif buat orang lain walaupun masalahnya dalam kategori yang sama.

Salam silim

Sisi ibu

Belum lama ini ada kejadian yang bikin gue mikir ternyata gue nggak pernah mikir dari sisi ini deh.

Waktu itu gue pulang main dari rumah temen deket gue yang jarak rumahnya nggak jauh-jauh amat palingan cuma lima menitan kalau pakai motor. Gue lupa jam berapa berangkat dari rumah tapi gue pulangnya itu hampir jam 5 an kayaknya kalau nggak salah ingat.

Terus gue kan pulang tuh gue langsung ke dapur disitu ada ibu gue. Ya biasa lah marahin gue karena main dan seterusnya. Biasalah ibu ibu. Biasanya gue cuma iya iya in dan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tetiba gue nanya nih sama ibu gue

La gene to buk la wong dee yo prei ra gene-gene yo wong biasane yo aku nek dolan yo ngno kui kan yo ra mbendino dolanku ki?”

Kui lak rumangsamu ra gene-gene!”

La gene emange?”

Yo nek dolan ki reti wayah ora gur sak penak mu dewe. Rumangsane dee gur arep njagongi nglenik karo koe,masane dee ora nduwe gaean,masana ra ngopo-ngopo. Pra yo ngewangi bue ne barang menowo meh masak opo meh ngopo-ngopo.”

“……..”

Setelah gue tanya itu ke ibu gue. Oiya ya kenapa gue nggak mikir sejauh itu. Kenapa nggak mikirin sampai ke situ. Yakali tetiba temen gue nyuruh

Mulio kono ndang aku meh ngopo-ngopo sik!”

Ya mungkin aja sih karena temen gue ini tipe yang seenak jidat kalau ngomong (coy kalau lo baca ini jangan marah ye hehe) tapi mungkin karena mempertibangkan perkewuh dan lainnya gue nggak tau.

Dan kadang gue lupa buat nanya dari sisi lain. Gue cuma mikir oh ini ibu gue marahin gue,gue nggak boleh main. Gue lupa tanya dari sisi ibu gue dari sisi lain selain gue. Gue selalu ngeliat dari sisi gue. Dan selalu mikir dengan sisi gue tanpa mempertimbangkan dari sisi orang lain.

Hape

Pernah denger “anak jaman sekarang setiap hari ngeliat hape”,”yang dipegang tiap hari hape,ngegame terus”. What the fuck,gue pengen ngumpat sengumpat ngumpatnya. Mereka itu produk dari kalian dari gue juga yang merupakan dari lingkungan yang ikut melestarikan.

Fuck. Dari lingkungan awal yang emang udah terbentuk gitu. Saat ada orang tua atau orang dewasa yang ngomong “anak jaman sekarang pegangannya hape terus”. Gue dalam hati ngumpat coy mereka kayak gitu itu juga gara-gara kalian gara-gara kita. Nyuruh mereka berhenti main hape tapi selalu nyekokin hape ke mereka.Para orang dewasa yang merasa selalu benar.

Karena kalian menawarkan hape itu sejak dini. Waktu anak nangis karena apapun kalian akan kasih mereka solusi yaitu main hape,waktu lagi rebutan atau apapun kalian menawarkan lagi,waktu kalian ninggalin meeeka entah buat nyici,masak,dll,ketika lagi main sama sebaya mereka dan nangis entah karena bertengkar atau apapun kalian kasih lagi. Dan gitu terus. Kalian menawarkan pada mereka solusi yaitu “HAPE”.

Dan kalian selalu marah-marah. Tolong dong mereka seperti itu juga karena kalian,dari kalian dari gue. Dan setiap gue lihat mereka gitu gue nggak tau miris aja cuy. Dan kalian pernah liat mama muda entah tetangga kalian atau keluarga kalian yang dia pantengin hape nggak meduliin anaknya pas anaknya ngajak ngomong,mau mainan apa terserah. Cuma bilang nggak boleh gini nggak boleh gitu tapi fokusnya tetep ke hape.Gue akan merasa,gila ya coy ini anaknya mau cerita dan mereka lebih milih hape. Tolong dong anaknya ditanggepin atau kalau kalian pegang hape karena jualan atau ada yang penting banget kasih pengertian ke mereka ngomong ke mereka. Nggak ditanggepin ora diglape kui ra menak.

Dan gue mulai ngerubah sikap gue ketika entah ada anak kecil yang ngajak ngomong sama gue gue sebisa mungkin nggak akan pegang hap dan nanggepin atau ngedengerin mereka ngomong. Dan gue mencoba selalu ngeladenin mereka ngomong. Awalnya gue juga nggak peduli(kan gue juga bagian lingkungan beracun itu fuck). Gue cuma haheho ketika mereka ngomong. Setelah gue pikir-pikir gue benci ketika ada anak ngomong ditinggal mainan hape sama ortu entah orang dewasa di sekitar mereka. Gue juga ngelakuin itu terus apa bedanya gue sama mereka dong gue juga sama aja nambahin racun di lingkungan yg udah penuh racun.

Gue mulai negerubah diri gue yang awalnya nggak peduli. Gue coba ngedengerin mereka ngomong. Ternyata mereka bisa cerita apa yang nggak mereka suka,entah mereka pengen curhat atau apapun itu.Gue nggak tau gimana cara mutus rantai laknat itu. Gue cuma sebisa mungkin ngerubah dari diri gue sendiri. Dan gue sadar kalau gue nggak ngerubah diri dari gue gue juga akan ikut melestarikan kebiasaan itu dimulai dari dari anak di lingkungan sekitar gue entah dari anak tetangga atau siapapun itu.

Gue juga termasuk orang yang selalu megang hape gue sadar itu nggak baik. Karena gue akan nggak peduli sama lingkungan sekitar gue,gue nggak akan bersosialisasi selama ketemu,gue nggak peduli sama mereka yang ada saat itu waktu itu gue malah peduli dengan teman dunia maya gue.

Gue tau itu “sakit” sih. Akhir-akhir ini gue mulai ngebentuk kebiasaan-kebiasaan baru yang buat gue agak ninggalin hape bukan ninggalin sih apa ya lebih ke agak ngurangin. Dan plis tolong banget buat kalian yang baca blog ini (kalau ada ehehe) ketika kalian lihat kejadian seperti ini. Plisssss tolong kalian peduli sama anak itu kalau anak itu ngajak ngobrol dengerin aja atau tanggepin aja tolong tinggalin hape kalian dan ajak ngobrol plis.

Salam pipi tembem coy 😊

Pipi Chubby

Dulu waktu sd,smp gue nggak terlalu mempermasalahkan pipi gue yang tergolong chubby. Kemudian mulai masa-masa sma standar cantik pada waktu itu pipi tirus (bahkan sampai sekarang standarnya masih itu coy). Gue terjebak pada standarisasi itu. Yang kalau cantik itu pipi harus tirus. Jadi masa sma gue. Gue terjebak pada standarisasi tersebut.

Kemudian 2018 an lah kayaknya gue mulai mengenal self love. Di self love itu gue belajar mencintai diri gue. Apapun yang ada diri gue kelebihan,kekurangan gue dan apapun yang ada di diriku. Mulai mencoba mengenali diri gue. Apa sih yang gue mau,apasih yang nggak gue mau,mulai ngenalin sifat sifat diri gue,bagian-bagian dari tubuh gue sendiri yang ternyata kadang luput dari pengelihatan gue karena segitu bodo amatnya gue sama diri gue sendiri.

Kemudian gue juga mengenal self acceptance yang artinya penerimaan akan diri gue. Ya udah emang pipi gue gitu. Pipi gue chubby ya udah gue terima mau bagaimanapun itu bagian dari tubuh gue. Kemudian ketika sekarang ada yang bilang pipi mu chubby banget gue cuma jawab ya emang gitu mau gimana lagi.

Akhirnya gue tiba pada keadaan sekarang yang bodo amat kalau ada yang ngatain. Emang pipi gue gitu dan gue nggak bisa ubah itu. Masa iya mau nyangkal ini tirus tau padahal keadaan sebenar-benarnya adalah pipi gue chubby. Gue sekarang pede dengan pipi chubby gue. Gue terima diri gue,gue terima pipi gue,gue terima apapun keadaan gue.

Salam pipi chubby coy

19

Angka yang bikin gue bertanya-tanya.

Masa umur gue udah segitu sih ?

Masa udah 19 tahun hidup di bumi sih ?

Apa aja sih yg udah gue laluin selama ini ?

Apa aja sih permasalahan hidup gue ?

Apa aja yg udah gue lakuin ?

Apa aja pencapaian selama ini ?

Apa yang gue inginkan ?

Apa tujuan hidup gue ?

Apa aja yang gue ketahui tentang hidup ini ?

Apa aja gue ketahui tentang hidup gue ?

Apakah gue udah ngelakuin hal-hal baik ?

Apakah gue udah jadi orang baik ?

Apakah gue udah ngasih hal-hal positif buat diri gue ?

Apakah gue udah mencintai diri gue sendiri ?

Apakah gue udah menghargai diri gue sendiri ?

Apakah gue udah bisa mengapresiasi diri gue sendiri ?

Apakah gue udah pernah menghadiahi diri gue sendiri ?

Apa gue harus selalu mendahulukan orang lain ?

Apa gue harus ngikutin orang lain ?

Kenapa gue mudah terpengaruh sama orang lain ?

Kenapa gue terlalu perasa ?

Kenapa gue nggak menjadi diri gue sendiri ketika ada banyak orang ?

Kenapa gue selalu ingin didengar ?

Kenapa gue selalu ingin dihargai ?

Kenapa gue selalu ingin diistimewakan ?

Kenapa gue merasa lebih tau dari orang lain ?

Kenapa gue nggak terlalu percaya diri ?

Kenapa gue minderan ?

Kenapa gue terlalu memikirkan orang lain ?

Kenapa gue memikirkan presepsi orang lain tentang gue ?

Kenapa gue harus selalu memaklumi orang lain ?

Kenapa gue masih males solat ?

Kenapa gue nggak tahu banyak tentang agama gue sendiri ?

Apakah gue harus menjadi dewasa ?

Pertanyaan yang di umur 19 tahun ini coba gue cari jawabannya. Beberapa udah ketemu jawabannya dan beberapa masih gue coba cari. Gue berharap di umur 20 nanti gue udah berhasil jawab semua pertanyaan itu. Atau gue cuma berhasil jawab beberapa aja dan di umur 20 nanti gue masih punya pertanyaan yg sama. Gue nggak tahu. Gue harap gue bisa nglewatin angka 19 ini lancar dan semoga gue bisa ngejawab pertanyaan gue sendiri. Semoga kualitas diri gue semakin bertambah. Semoga gue nambah kebiasaan baru yg positif dan bermanfaat bagi hidup gue. Semoga gue selalu dalam lindungan-Nya.

Empati

Empati sendiri dalam kbbi artinya keadaan mental yang membuat seseorang merasa dirinya dalam keadaan perasaan yang sama dengan orang lain. Kurang lebihnya begitu lah.

Gue nggak tau apakah orang sekarang masih punya rasa itu. Gue adalah anak kos yang kebanyakan temen kuliah gue nggak nge-kos. Gue ngerasa tempat kos ini harus gue jadiin tempat ternyaman kedua setelah rumah gue. Yaiyalah cuy lima hari di kos dua hari di rumah ya mesti dijadiin tempat nyaman lah. Kalau nggak ya remuk sendiri gue. Udah bayar setiap bulan mana tak nyaman pulak untukku . Gue sebenernya nyaman nyaman aja kalau gue didatengin temen gue di kos tapi ya anda sebagai temen ijin dulu lah sama yang punya tanya lah cuy

“Lo ada di kos nggak?”

“Gue boleh main ke tempat lo nggak?”

“Lo lagi sibuk nggak?”

Seenggaknya lo menghargai gue sebagai yang yang punya tempat. Nggak yang lo tiba tiba masuk kos nyelonong langsung anggep kos gue adalah kamar lo. Coy kos yang lagi lo anggap kamar lo sendiri itu adalah tempat yang berusaha mati matian gue anggap nyaman,gue anggep kamar kedua,gue anggap rumah,gue anggap area pribadi gue. Ya masa lo tiba-tiba kek gitu. Emangnya lo nggak punya empati bayangin itu kamar lo,area paling paling pribadi lo. Trus tiba tiba diacak-acak sama orang lain.

Berasa nggak dihargai banget cuy. Kecuali emang lo adalah temen deket gue yang gue udah tau dia mau ngapain,kenapa di kos gue,dan gue udah deket sama mereka. Dan sebelumnya mereka udah tau kayak peraturan gue,gue nggak suka kalau barang gue diacak-acak,apa yang mereka ambil dikembaliin ke tempat semula,apa yang mereka pake harus mereka cuci,kaos kaki mesti dilepas. Itu mereka udah tau. Dan mereka menghargai gue sebagai pemilik kamar.

Gue nggak tau apakah lo nggak punya rasa empati itu. Cuy hargain lah itu gue. Ada saatnya gue nggak mau nemuin siapa siapa karena mood gue yang lagi berantakan dan berusaha ngembaliin mood gue. Ada saatnya gue males ngomong,males naggepin omongan orang. Bayangin itu lo lah lagi nggak mau diganggu siapa siapa trus ada temen lo tiba tiba dateng. Sekali-kali mikirlah ada di posisi gue. Jangan lo yang mikir enak di lo. Dosen nggak ada meati nugguin matkul berikutnya yang beberapa jam kemudian baru dimulai. Trus di kampus nggak ada tempat yang nyaman buat lo geloleran di kasur. Dateng ae ke tempat kos temen lo. Anggap aja kamar sendiri cuy !

Jangan gitu ya sayang. Kalau lo belum bisa berempati sama orang lain. Paling nggak lo ngehargain gue sebagai temen lo. Jaga kesopanan lo. Hargai temen lo. Belajar berempati sama manusia lain.

Ini gue juga lagi belajar cuy. Misal gue mau langsung ngambil barang temen gue. Gue ijin dulu lah. Boleh nggak gue ngambil barang itu. Walaupun itu temen deket gue sendiri. Jangan ngeremehin karena itu temen deket lo sendiri. Kita nggak tau misal barang yang diambil adalah barang kesayangan temen lo. Gue juga lagi belajar cuy !

Sumber gambar diambil dari pinterest ya.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai